Kamis, 18 Februari 2021

Petani sawah

Kebanyakan profesi masyarakat indonedia adalah bertani di sawah dengan harapan untuk bisa menafkahi keluarga tercinta. Bekerja sebagai petani Sawa memang tidak gampang karena setiap hari harus memegang lumpur, namun dibalik semua itu mereka pada titik akhirnya mendapatkan hasil. Namun seiring perkembangan zaman banyak generasi melenial yang tidak mau menjadi petani sawah karena bagi mereka bekerja sebagai para petani itu sangatlah tidak berutung kalau dibandingkan dengan bekerja sebagai pegawai. Namun  menurut saya prinsip seperti ini sebenarnya tidak seharusnya kita pakai karena setiap pekerjaan pasti butuh kerja keras agar mendapat hasil yang memuaskan dan pada titik akhirnya harus mendapatkan imbalan ataupun hasil, baik itu ia bekerja sebagai pegawai,petani, maupun pekerjaan lainya. Bekerja sebagai petani pasti menjalani hari dengan bekerja banting tulang mengeluarkan keringat dengan mencangkul, membajak dan menyemaikan benih-benih unggul demi hasil terbaik. Menunggu benih tumbuh dengan indah mereka membajak lahan untuk siap di tanam. Di saat tiba waktunya, benih yang bersemaian di tanam dengan rapinya serta memupuk, menyomprotnya demi tidak ada hama yang mengganggunya.

Selang beberapa minggu mereka mengairi sawahnya dengan teratur, mencabuti rumput jika tumbuh di sela-sela tanaman padi.

Dengan kesabarannya menunggu padipun mulai berbunga serta berbuah, disaat itulah mulai di persawahan terdengar suara gaduh anak-anak maupun orang tua yang mengusir burung pipit yang hendak memakan biji padi mereka.

Disaat panen tiba, tergambar terang dan jelas, padi menguning keemasan menghampar sepanjang mata memandang, melambai-lambai diterpa angin seolah mengisyaratkan harapan akan peningkatan kesejahteraan.
Ditambah lagi riuhnya lesung bertalu berirama merdu yang mengiringi roda perekonomian desa yang masih semarak berputar. Anak-anak desa pun tak ketinggalan ikut berpesta dengan berlari-lari lincah di pematang menikmati keriangan orang tuanya, menuai harapan dengan impian akan terkabulkan. Kehidupan yang mencukupi hingga sampai panen yang akan datang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar